Posts tagged review

Story Starry Nite - Beginning A Winning ep

Tertarik dengan rilisan ini karena illustrasi kovernya yang menurut saya lumayan ok. Dan ternyata dibagian sampul dalamnya juga dihiasi gambar-gambar lucu yang sepertinya bertemakan “awal”. Misalnya gambar lengan sedang mengetuk-ngetuk meja makan dan bertuliskan “this supposed to be a piano”.

Secara musik, terus terang kalau saya penggemar pop punk tidak akan membuat komplain walaupun belum terasa bedanya band ini dengan band-band sejenis yang bertebaran di penjuru Indonesia. Tema-temanya pun masih standard problematika anak muda yang masih banyak impian, cinta monyet, pengkhianatan dan semacam itulah.

Namun harus saya akui walaupun super standard lagu-lagunya, mereka melakukannya dengan kemasan yang bagus.

PROFESSOR ANGEL SOUND GO + REMIXES - Sebuah Projek dari dalam Penjara

GO yang dirilis oleh Post World Industries adalah sebuah lagu tari-pujian-moombahton yang diproduksi di sel penjara Panama dan di remix oleh selusin global bass produser.
Angel Francisco Lopez, atau Profesor Angel Dust, adalah seorang tokoh terkemuka dalam kancah musik elektronik dari Barcelona, seorang DJ dan penggila pesta sampai dengan tahun 2008. Sepulang dari sebuah pertunjukan DJ di Panama, Lopez menjadi seorang pengedar dalam suatu transaksi narkoba dan
tertangkap di bandara Tocumen, dan saat ini sedang menjalani hukuman panjang di penjara Panama. Tidak berhenti sampai disitu, Profesor membangun
sebuah studio improvisasi musik didalam sel penjara untuk menciptakan GO dan ‘banger moombahton’.
GO diremix oleh selusin produser bass potensial, yaitu: dari mindfuck dancefloor epileptic of  Munchi
(NL),
to the hard dub-wise refix of Max Powa (AT), Kosta Kostov (DE / BU), The 13
Tribe(UK / CL), Le Freak Selector(AR / ES), Caballo (CO / CA), Bigote (ES), Al Lindrum (DK / ES), Los Altos Chicos (DE / AS / ES), Lata
(CL), Reactable Global Sound (ES), Al Pacheco (MX) dan ICS (CZ) dan dikompilaksikan oleh Dj Mata Hari dari Barcelona.
Ironisnya López menjalani hukuman di penjara yang bernama El Renacer,” yang berartikelahiran kembali”. Rilis ini menandai
kelahiran kembali dari seniman yang memiliki nama alias baru yaitu Professor Angel Sound. Hal ini juga merupakan kelahiran kembali dari label rekaman Post World Industries, yang
sebelumnya dijalankan oleh Filastine dan diperluas dengan kerjasama bersama DJ Mata Hari.

Sonic Youth - Hits Are For Square

Tidak terbayang sebelumnya jika Sonic Youth akan merilis sebuah album “hits”.  Saya pun hampir mengabaikan CD berkover seorang anak muda memasang earphone sambil mendengarkan musik (kemungkinan besar dari iPod) di kedai kopi (yang kemungkinan besar Starbucks) ditengah kota.

Kedai kopi dengan gelas dan meja yang khas itu memang Starbucks, dan album kompilasi ini memang dirilis untuk diedarkan di gerai Starbucks, namun entah mengapa menurut berita yang tersebar. Album yang seharusnya “sell out” ini malah jadi sangat “rare”. Karena   Mungkin memang hanya dirilis beberapa ratus kopi saja.

Sampai akhirnya setelah beberapa tahun saya menemukan rilisan ini digerai CD biasa. Beberapa saat setelahnya saya menemukan diri sedang berbaring membaca liner notes dari orang-orang yang terpilih untuk menentukan lagu-lagu favorit mereka buat dimasukan ke album ini.

Diantaranya Eddie Vedder, Mike D, Beck, Radiohead, Flea, Gus Van Sant dan lain-lain.

Lumayan juga untuk nostalgia singkat perjalanan panjang karir mereka dirangkum dalam sebuah CD saja.

Plus sebuah lagu baru Slow Revolution.

Sonic Youth - Hits Are For Square

Tidak terbayang sebelumnya jika Sonic Youth akan merilis sebuah album “hits”. Saya pun hampir mengabaikan CD berkover seorang anak muda memasang earphone sambil mendengarkan musik (kemungkinan besar dari iPod) di kedai kopi (yang kemungkinan besar Starbucks) ditengah kota.

Kedai kopi dengan gelas dan meja yang khas itu memang Starbucks, dan album kompilasi ini memang dirilis untuk diedarkan di gerai Starbucks, namun entah mengapa menurut berita yang tersebar. Album yang seharusnya “sell out” ini malah jadi sangat “rare”. Karena Mungkin memang hanya dirilis beberapa ratus kopi saja.

Sampai akhirnya setelah beberapa tahun saya menemukan rilisan ini digerai CD biasa. Beberapa saat setelahnya saya menemukan diri sedang berbaring membaca liner notes dari orang-orang yang terpilih untuk menentukan lagu-lagu favorit mereka buat dimasukan ke album ini.

Diantaranya Eddie Vedder, Mike D, Beck, Radiohead, Flea, Gus Van Sant dan lain-lain.

Lumayan juga untuk nostalgia singkat perjalanan panjang karir mereka dirangkum dalam sebuah CD saja.

Plus sebuah lagu baru Slow Revolution.

Raksasa - s/t

Salah satu album yang paling saya antisipasi diakhir tahun 2011, karena teaser single-single nya seperti “Pesawatku Delay” dan “Imsomnia” cukup catchy dan nempel dikepala. Sudah beberapa bulan ini lirik “Delay! pesawatku delay…” menjadi soundtrack  terbaik dan pas saat menunggu waktu boarding yang tiada jelas kapan datang. Begitupun lirik “waktu terbalik siang jadi malam…” lumayan menjadi pengingat untuk memaksakan diri tidur saat melihat jam menunjukkan pukul 3 pagi.

Selain lirik, saya juga tertarik dengan kombinasi dua gitaris; Adrian Adioetomo dan Iman Fattah. Yang satu dikenal sebagai pengusung delta blues yang memiliki suara gitar yang sangat tua mengingatkan pada suasana jaman koboi; sementara Iman Fattah saya kenali sebagai pemilik suara gitar yang cenderung modern dan seringkali terdengar kasar dengan layer layer distorsi.

Kombinasi unik ini ditambah dengan karakter vokal Adi Cumzky membuat album ini menjadi seperti Jane’s Addiction memaksa Jonny Greenwood memainkan repertoir Black Crowes dengan bintang tamu Adrian Adioetomo dan Pepeng Naif.

Adi Cumzki, Adrian Adioetomo dan Iman Fattah membuat karakter band ini menjadi lebih unik, karena mereka tetap mempertahankan karakter masing-masing namun juga sukses berkolaborasi satu sama lain untuk membuat lagu-lagu di Raksasa tidak sekedar menjadi ‘band sampingan’, tetapi band yang memiliki karakter dan integritas tersendiri.

Kemudian setelah mendengarkan satu album bolak balik, saya mengikrarkan diri untuk menyaksikan penampilan live super group ini. Kayaknya bakal lebih seru dibandingkan sekedar memutar CD sambil terkantuk-kantuk.

Raksasa - s/t

Salah satu album yang paling saya antisipasi diakhir tahun 2011, karena teaser single-single nya seperti “Pesawatku Delay” dan “Imsomnia” cukup catchy dan nempel dikepala.
Sudah beberapa bulan ini lirik “Delay! pesawatku delay…” menjadi soundtrack terbaik dan pas saat menunggu waktu boarding yang tiada jelas kapan datang. Begitupun lirik “waktu terbalik siang jadi malam…” lumayan menjadi pengingat untuk memaksakan diri tidur saat melihat jam menunjukkan pukul 3 pagi.

Selain lirik, saya juga tertarik dengan kombinasi dua gitaris; Adrian Adioetomo dan Iman Fattah. Yang satu dikenal sebagai pengusung delta blues yang memiliki suara gitar yang sangat tua mengingatkan pada suasana jaman koboi; sementara Iman Fattah saya kenali sebagai pemilik suara gitar yang cenderung modern dan seringkali terdengar kasar dengan layer layer distorsi.

Kombinasi unik ini ditambah dengan karakter vokal Adi Cumzky membuat album ini menjadi seperti Jane’s Addiction memaksa Jonny Greenwood memainkan repertoir Black Crowes dengan bintang tamu Adrian Adioetomo dan Pepeng Naif.

Adi Cumzki, Adrian Adioetomo dan Iman Fattah membuat karakter band ini menjadi lebih unik, karena mereka tetap mempertahankan karakter masing-masing namun juga sukses berkolaborasi satu sama lain untuk membuat lagu-lagu di Raksasa tidak sekedar menjadi ‘band sampingan’, tetapi band yang memiliki karakter dan integritas tersendiri.

Kemudian setelah mendengarkan satu album bolak balik, saya mengikrarkan diri untuk menyaksikan penampilan live super group ini. Kayaknya bakal lebih seru dibandingkan sekedar memutar CD sambil terkantuk-kantuk.

Stereocase - Bicara

Band yang awalnya selalu dibandingkan dengan Incubus ini akhirnya berhasil membangun karakter mereka sendiri. Dengan musik yang terdengar seperti keagresifan Incubus diberi twist dansa Maroon 5 plus beberapa keseksian Prince dengan benang berah ‘funk’.

Lagu-lagu yang ditulis terdengar jujur dan dengan lirik-lirik yang berusaha membangun optimisme. Saya rasa juga tiada lirik-lirik cinta yang menye-menye dialbum ini, yang ada kebanyakan ajakan menikmati hidup yang dinyanyikan dengan semangat.

Sejujurnya album ini bukan tipe yang akan saya dengarkan setiap hari, namun saya akan membuat album ini ke daftar rekomendasi untuk kalian yang memasukan nama-nama seperti Maroon 5, Incubus, Hoobastank atau mungkin Maliq & d’essential didalam playlist. Dan saya pun berharap band seperti inilah yang lebih banyak menghiasi layar kaca dan terdengar di radio daripada yang ada di tv sekarang.

favorit saya dialbum ini adalah “Alihkan” dan twist tehnik vokal nya Sara (un soirée) di lagu ‘Bebas’. Bicara soal bebas, album ini punya banyak sekali lagu dengan lirik menggunakan kata ‘lepas dan bebas’.

Mengapa ya? Mari kita tunggu jawabannya pada hari Selasa 29 November 2009 di AMNGigs 3 di Hard Rock Cafe Jakarta.

Stereocase - Bicara

Band yang awalnya selalu dibandingkan dengan Incubus ini akhirnya berhasil membangun karakter mereka sendiri. Dengan musik yang terdengar seperti keagresifan Incubus diberi twist dansa Maroon 5 plus beberapa keseksian Prince dengan benang berah ‘funk’.

Lagu-lagu yang ditulis terdengar jujur dan dengan lirik-lirik yang berusaha membangun optimisme. Saya rasa juga tiada lirik-lirik cinta yang menye-menye dialbum ini, yang ada kebanyakan ajakan menikmati hidup yang dinyanyikan dengan semangat.

Sejujurnya album ini bukan tipe yang akan saya dengarkan setiap hari, namun saya akan membuat album ini ke daftar rekomendasi untuk kalian yang memasukan nama-nama seperti Maroon 5, Incubus, Hoobastank atau mungkin Maliq & d’essential didalam playlist. Dan saya pun berharap band seperti inilah yang lebih banyak menghiasi layar kaca dan terdengar di radio daripada yang ada di tv sekarang.

favorit saya dialbum ini adalah “Alihkan” dan twist tehnik vokal nya Sara (un soirée) di lagu ‘Bebas’. Bicara soal bebas, album ini punya banyak sekali lagu dengan lirik menggunakan kata ‘lepas dan bebas’.

Mengapa ya?
Mari kita tunggu jawabannya pada hari Selasa 29 November 2009 di AMNGigs 3 di Hard Rock Cafe Jakarta.

The Majestic - Home

Band rock n roll ugal-ugalan asal Bandung ini rupanya semakin ugal-ugalan dialbum ini. Tidak ada nyanyian merdu, hanya ada teriakan bercampur alkohol yang dibalut distorsi gitar diperkuat suara mesin synthetizer yang membuat teriakan revolusi mereka jauh lebih kasar daripada the Clash. 

Mungkin memang album ini dikonsepkan sebagai bentuk perlawanan terhadap kemapanan dan menantang telinga untuk terus bertahan mendengarkan album Home ini. Atau mungkin album ini memang diciptakan untuk menendang kita keluar dari zona aman yang tunduk pada aturan norma dan keluar ke jalan melakukan sesuatu yang lebih baik daripada duduk-duduk mendengarkan orang mabuk menyanyikan sesuatu tentang pemberontakan norma. 

But i love this album, karena pesan-pesan yang disampaikannya; walau bukan berarti harus mendengarkannya satu putaran lagi. 

The Majestic - Rock n Roll Bunuh Diri